Bongkar Peran 3 Komunitas Pengawas Partisipatif: Cara PDB, KOPAS, dan Garda Satya Awasi Tahapan Pemilu
|
Pati - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pati menggelar siniar (podcast) edukasi bertajuk "Sego Tewel" (Sekolah Go To Democracy Well) di kantor Bawaslu Kabupaten Pati, Kamis (1/10/2026). Mengambil pendekatan santai sambil bersantap kuliner khas daerah, diskusi ini fokus menyoroti peran strategis generasi muda dan pengawas partisipatif dalam mengawal proses demokrasi.
Kegiatan tersebut menghadirkan pimpinan dari tiga komunitas kepemudaan pengawas pemilu di Kabupaten Pati, yakni M. Ulul Irfan (Ketua Perisai Demokrasi Bangsa/PDB Pati), Moh. Irsyadul Akmal (Ketua Komunitas Pengawas Partisipatif/KOPAS), Puji Astuti (Ketua Garda Satya/Penjaga Kejujuran Dalam Pramuka), dan Alzam Rafi'e M (Wakil Ketua Garda Satya).
Mengakar dari Kaderisasi Pengawasan
Ketua PDB Pati, M. Ulul, menuturkan bahwa organisasinya telah berdiri sejak tahun 2023. Wadah ini beranggotakan para alumni Sekolah Kader Pengawas Partisipatif (SKPP) tahun 2022 dan telah terjun langsung melakukan pemantauan pada Pemilu serta Pilkada serentak 2024 lalu.
"Kami berdiri sebagai wadah bagi generasi muda untuk mengenal demokrasi lebih dalam. Anggota kami sudah tersebar dan ikut memantau jalannya pemilu, termasuk memastikan aksesibilitas bagi pemilih disabilitas," ujar Ulul dalam diskusi tersebut.
Sementara itu, Ketua KOPAS, Moh. Irsyadul Akmal, menjelaskan bahwa KOPAS lahir pada tahun 2025 dari rahim pelatihan P2P (Pendidikan Pengawas Partisipatif) yang mayoritas anggotanya adalah mahasiswa. Meski tergolong baru, KOPAS menargetkan kolaborasi berkelanjutan dengan Bawaslu guna menyiapkan pengawasan pada pesta demokrasi mendatang.
Sentuhan Pramuka dan Edukasi Pemilih Pemula
Warna berbeda dihadirkan oleh Garda Satya, komunitas pengawas pemilu yang diinisiasi oleh anggota Pramuka Penegak tingkat SMA dan Madrasah Aliyah. Ketua Garda Satya, Puji Astutik, bersama wakilnya, Alzam Rafie' M, mengungkapkan pentingnya pendampingan dari Bawaslu maupun komunitas senior untuk memperluas literasi kepemiluan di kalangan pemilih pemula.
Menurut Alzam, budaya demokrasi yang sehat perlu dipupuk sejak dini, bahkan dari lingkungan sekolah seperti proses pemilihan ketua OSIS yang bebas dari praktik politik transaksional maupun iming-iming materi.
"Komunikasi dan koneksi antarelemen jangan sampai terputus agar seluruh anggota bisa menjalankan fungsi pengawasan dan kaderisasi dengan baik," tutur Alzam.
Tolak Politik Uang dan Kampanye Hitam
Menjelang agenda-agenda politik berikutnya, perwakilan komunitas menyuarakan harapan agar pesta demokrasi ke depan berjalan lebih inklusif, damai, serta minim pelanggaran.
"Harapan kami ke depan suasana pemilu bisa lebih adem ayem, kampanye hitam hilang, dan yang terpenting politik uang tidak ada lagi," tegas Ulul.
Pihak Bawaslu Kabupaten Pati menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi, memperkuat jejaring komunikasi daring, serta merancang program-program edukasi yang relevan bagi pemilih muda, khususnya Generasi Z, demi menjaga integritas pemilu di daerah.