Pendidikan Pengawasan Jateng Masuk 10 Besar Nasional, Amin: Jangan Terlambat Berinovasi!
|
Pati - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Jawa Tengah memacu kesiapan jajarannya menghadapi tahapan Pemilu 2029 sejak dini. Meski tahapan pemilu belum berjalan, pembinaan kader pengawas partisipatif dipastikan tidak boleh mandek dan sebatas kegiatan seremonial.
Hal itu ditegaskan dalam agenda daring Literasi Pojok Pengawasan (LPP) Volume 21 bertajuk "Strategi Menggerakkan Komunitas Kader Pengawas Partisipatif" yang diikuti Bawaslu kabupaten/kota se-Jateng, Senin (5/10/2026).
Ketua Bawaslu Jateng Muhammad Amin menuturkan, Jawa Tengah memiliki modal sosial yang kuat lewat beragam bentuk gerakan pengawasan partisipatif. Gerakan itu mencakup PASKA, forum warga, KKN tematik, kampung pengawasan, hingga pojok pengawasan.
Bahkan dari data yang dihimpun, program Pendidikan Pengawasan Jateng sukses menembus 10 besar nasional dan program Forum Warga masuk jajaran 3 besar nasional.
"Semangat teman-teman ini sangat bagus. Ini adalah capaian Bapak/Ibu sekalian di tingkat kabupaten. Artinya, tidak ada kata terlambat untuk memulai dan tidak ada kata terlambat untuk berinovasi," kata Amin saat membuka acara.
Amin mengingatkan agar masa non-tahapan dan keterbatasan anggaran tidak mematikan kreativitas jajaran pengawas. Sebaliknya, momentum ini dinilai tepat untuk merawat jejaring serta mengembangkan inovasi lintas daerah, misalnya melalui pertukaran pengetahuan antarwilayah.
Senada, Koordinator Divisi Pencegahan dan Partisipasi Masyarakat Bawaslu Jateng Nur Kholiq menyampaikan bahwa pengawasan partisipatif merupakan mandat langsung dari UU Nomor 7 Tahun 2017. Oleh sebab itu, giat literasi berkala ini dirancang untuk menjaga kesiapan institusi menatap kontestasi politik 2029.
"Yang penting adalah bagaimana giroh dan semangat ini tetap terjaga. Ini adalah cara kita untuk merawat dan menjaga kemampuan serta skill kita dalam konteks pelaksanaan tugas-tugas pengawasan," ujar Nur Kholiq.
Nur Kholiq menggarisbawahi bahwa tugas pengawas bukan hanya melatih kader, melainkan memastikan mereka tetap terhubung dan memiliki ruang kontribusi nyata bersama kampus, sekolah, pesantren, hingga komunitas masyarakat.