Lompat ke isi utama

Berita

Lolly Suhenty: Demokrasi Tak Boleh Lepas dari Budaya Lokal

Anggota Bawaslu Lolly Suhenty saat membuka acara Bedah Buku Srikandi Mengawasi di Bali, Selasa (16/9/2025).

Anggota Bawaslu Lolly Suhenty saat membuka acara Bedah Buku Srikandi Mengawasi di Bali, Selasa (16/9/2025).

Bali - Anggota Bawaslu RI, Lolly Suhenty, menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari akar budaya lokal. Menurutnya, demokrasi bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan sudah hidup dalam keseharian masyarakat.

“Nilai demokrasi itu tidak boleh tercabut dari budaya lokal. Demokrasi bukan milik Barat atau hanya di Jakarta, tapi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Lolly saat membuka acara Bedah Buku Srikandi Mengawasi di Bali, Selasa (16/9/2025).

Ia menilai, Bali dipilih menjadi salah satu lokasi kegiatan karena memiliki tradisi kuat yang sejalan dengan nilai demokrasi. “Bali sejak lama memberi perhatian pada pengetahuan dan kesakralan. Cara masyarakatnya menyelesaikan konflik, memilih tokoh adat hingga pemimpin pemerintahan menunjukkan praktik demokrasi yang berakar pada budaya lokal,” tegasnya.

Lebih lanjut, Lolly menyoroti bagaimana para perempuan pengawas pemilu menuliskan pengalaman mereka tanpa terlepas dari filosofi Hindu. Ia mengutip ajaran Sarasamuscaya 77 yang menekankan bahwa pribadi seseorang tercermin dari perbuatan, ucapan, dan pikirannya.

“Buku ini berbicara tentang apa yang dikatakan, dilakukan, dan dipikirkan. Dari sana, orang bisa mengenal kepribadian penulisnya,” ujarnya.

Koordinator Divisi Partisipasi dan Hubungan Masyarakat Bawaslu itu juga memberikan apresiasi tinggi kepada para penulis buku. Menurutnya, menyelesaikan tulisan di tengah padatnya tahapan Pemilu merupakan tantangan yang tidak mudah. “Hanya orang-orang terpilih yang mampu menundukkan tantangan berlapis. Mari kita beri penghargaan kepada para penulis,” tutur Lolly.

Menutup sambutannya, Lolly mengingatkan bahwa setiap orang adalah bagian dari sejarah. Ia mengajak para peserta untuk tidak ragu menulis pengalaman mereka, sekecil apa pun.

“Cerita yang ditulis akan menjadi warisan agar kita tak pernah jenuh, takut, atau lelah bercerita. Dengan menulis, kita bekerja untuk keabadian,” pungkasnya.

 

Sumber : Bawaslu RI

Foto : Bawaslu RI

Tag
Bawaslu
Lolly Suhenty