Lompat ke isi utama

Berita

Sentil Politik Uang, Ketua Bawaslu Pati Beberkan Modus 'Balik Modal' Kepala Daerah

Sentil Politik Uang, Ketua Bawaslu Pati Beberkan Modus 'Balik Modal' Kepala Daerah

Pati - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pati mengingatkan pentingnya peran pemilih muda, khususnya Generasi Z, dalam menjaga jalannya Pemilu dan Pilkada. Anak muda diminta berani bersikap kritis terhadap bahaya politik uang hingga peredaran berita bohong atau hoaks di media sosial. 

Hal itu ditegaskan oleh Ketua Bawaslu Kabupaten Pati, Supriyanto, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi kepada Pemilih Pemula di Kabupaten Pati yang digelar oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Pati di Ruang Rapat Kembang Joyo, Setda Kabupaten Pati, Senin (28/9/2026). 

"Data pemilih dari kalangan milenial dan Gen Z ini jumlahnya lebih dari separuh total pemilih. Artinya, kedaulatan mutlak ada di tangan anak-anak muda. Jangan sampai hak istimewa ini digadaikan atau justru bersikap apolitis," ujar Supriyanto dalam paparannya. 

Supriyanto menyoroti ancaman klasik dalam kontestasi politik, terutama praktik politik uang (money politics). Menurutnya, tingginya biaya politik akibat jual beli suara menjadi pintu awal lahirnya tindak pidana korupsi ketika calon tersebut terpilih menjabat. 

Ia mengutip catatan KPK bahwa sejak bergulirnya era pilkada langsung pada 2004 hingga 2024, terdapat sedikitnya 167 kepala daerah dan wakil kepala daerah yang terseret kasus korupsi. 

"Biaya politik yang mahal karena praktik politik uang ini seperti lingkaran setan. Ketika terpilih, ada dorongan untuk mengembalikan modal, dan akhirnya berujung pada korupsi, kolusi, maupun nepotisme. Masyarakat pemilih yang menanggung dampaknya lewat kebijakan publik yang tidak berpihak pada rakyat," tegasnya. 

Selain politik uang, Supriyanto juga menyoroti tantangan demokrasi di era digital, di mana media sosial kerap dipenuhi hoaks, isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta perang opini yang digerakkan oleh buzzer. Kondisi ini menurutnya berbahaya jika publik mengonsumsi informasi secara emosional tanpa verifikasi rasional. 

Untuk itu, ia mendorong kalangan pelajar dan mahasiswa agar tidak tinggal diam dan menjadi pengawas partisipatif, baik di dunia nyata maupun di ruang siber. 

"Jadilah pemilih yang rasional, kritis, dan 'si paling tahu' dalam arti positif dengan selalu mengecek sumber resmi. Manfaatkan media sosial teman-teman untuk mengedukasi dan menyebarkan narasi positif agar ruang publik kita tidak didominasi oleh hoaks dan ujaran kebencian," pungkas Supriyanto.