Bongkar Fenomena Era Post-Truth, Bawaslu Pati Ajak Gen Z Jadi 'Superhero' Pengawas Pemilu
|
Pati - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pati mengajak generasi muda dan pemilih pemula untuk mengambil peran aktif dalam pengawasan pemilu partisipatif. Bawaslu menegaskan masa depan bangsa sangat ditentukan oleh kebijakan politik, sehingga anak muda tidak boleh bersikap apatis.
Hal itu disampaikan oleh Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas (P2H) Bawaslu Kabupaten Pati, Zaenal Abidin, SE., Sy., saat menjadi narasumber dalam Seminar Demokrasi di Aula Timur Perguruan Islam Al Hikmah Kajen, Pati, Rabu (26/8/2026).
Di hadapan para pelajar, Zaenal memaparkan materi bertajuk "Peran Pemilih Pemula dalam Pengawasan Partisipatif". Ia menyoroti fenomena tingkat aktivisme politik masyarakat Indonesia yang didominasi kategori spektator atau pengamat pasif (36%) dan kelompok apolitis (19%), sementara kelompok yang benar-benar aktif bergerak sebagai aktivis (15%) maupun 'gladiator' (2%) masih sangat minim.
"Masa depan kita ditentukan oleh politik dan kebijakan. Gen Z dan pemilih muda perlu segera menentukan peran serta kontribusi nyata yang dapat diberikan secara konsisten ke depan," ujar Zaenal.
Soroti Bahaya Politik Uang dan Korupsi
Zaenal mengingatkan sejumlah masalah klasik yang kerap mencoreng pesta demokrasi, mulai dari politik uang, penyebaran hoaks, kecurangan, politisasi SARA, hingga penyalahgunaan fasilitas negara.
Ia mengutip data KPK periode 2004 hingga 2024 yang mencatat setidaknya ada 167 kepala daerah (bupati/wali kota dan wakilnya) terjerat kasus korupsi akibat tingginya biaya politik. Ditambah lagi data survei KISP yang menunjukkan 67 persen responden pada Pemilu 2024 mengaku menemui atau menerima tawaran politik uang.
"Biaya politik yang mahal memicu lingkaran setan: calon berpikir balik modal, akhirnya terjadi korupsi, dan kebijakan yang lahir pun tidak pro-rakyat. Sikap permisif terhadap politik uang ini yang harus kita putus bersama," tegasnya.
Tantangan Ruang Digital dan Era Post-Truth
Tak hanya pelanggaran di lapangan, Zaenal juga menyoroti tantangan besar demokrasi di ruang digital, seperti banjir informasi, algoritma media sosial, maraknya buzzer, dan fenomena era post-truth.
"Saat ini emosional kerap mengalahkan rasionalitas. Masyarakat lebih mudah menerima informasi yang cocok dengan perasaannya ketimbang kebenaran faktual. Kondisi ini diperkeruh oleh buzzer dan akun robot yang sengaja memobilisasi isu negatif demi menggiring opini publik," paparnya.
Ajak Pelajar Jadi 'Superhero' Demokrasi
Untuk melawan narasi negatif tersebut, Zaenal mendorong Gen Z memanfaatkan teknologi, algoritma, hingga media sosial secara kreatif melalui meme, narasi positif, maupun jurnalisme warga (citizen journalism).
Ia pun membagikan formula agar generasi muda bisa menjadi 'superhero' demokrasi melalui empat peran utama:
- Intelektual: Menciptakan ruang-ruang diskusi politik yang sehat di lingkungan pelajar/sekolah.
- Si Paling Tahu: Kritis memanfaatkan gadget untuk membedah rekam jejak kandidat, visi misi, serta regulasi pemilu.
- Influencer: Menjadikan media sosial sebagai sarana edukasi, monitoring, dan kampanye pesan-pesan positif.
- Agent: Terlibat langsung menjadi penyelenggara pemilu, relawan demokrasi, atau pemantau independen.
"Menyuarakan kebenaran tidak harus selalu dengan konten kaku. Selipkan edukasi politik lewat konten kreatif dan hiburan agar pesan pengawasan pemilu sampai ke teman-teman sebaya," pungkas Zaenal.