Lompat ke isi utama

Berita

Pesan Kordiv SDM Bawaslu Pati Jadikan Ibadah Puasa Sebagai Energi Moral Pengawas Pemilu

Pesan Kordiv SDM Bawaslu Pati Jadikan Ibadah Puasa Sebagai Energi Moral Pengawas Pemilu

Pati - Bulan suci Ramadhan identik dengan ibadah menahan lapar dan dahaga yang tak jarang membuat energi fisik sedikit menurun. Namun, Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Pati mengingatkan bahwa kondisi tersebut pantang dijadikan alasan bagi penyelenggara pemilu untuk mengendurkan semangat kerja dan profesionalisme.

Pesan pengingat ini disampaikan oleh Koordinator Divisi (Kordiv) Sumber Daya Manusia (SDM), Organisasi, dan Diklat Bawaslu Pati, Moh. Priyo Manfaat. Melalui program kultum daring bertajuk "Puasa Menguatkan Jiwa, Non Tahapan Menguatkan Lembaga", Priyo menggarisbawahi pentingnya merawat integritas kelembagaan, terutama di masa jeda pemilu.

Priyo menganalogikan esensi ibadah puasa dengan fondasi integritas seorang pengawas pemilu. Menurutnya, puasa mengajarkan seseorang untuk tetap jujur menahan diri, meskipun tidak ada pantauan kamera pengawas (CCTV) maupun pengawasan dari manusia lain.

"Integritas itu seperti puasa yang kita jalani di bulan Ramadhan. Tidak perlu kita pertontonkan kepada orang lain, tidak perlu pujian dari orang lain, tapi tetap kita jaga," ungkap Priyo.

Mengubah Paradigma "Musim Rebahan"

Lebih jauh, Priyo menyoroti ujian integritas yang sesungguhnya justru kerap muncul di masa-masa sepi dari sorotan media, yakni pada masa non-tahapan pemilu. Ia menepis anggapan keliru yang sering beredar bahwa selesainya rangkaian tahapan pemilu berarti masuknya masa liburan bagi para penyelenggara.

"Kadang sesama penyelenggara atau orang lain sering bercanda, kalau tahapan selesai berarti kita masuk musim rebahan. Padahal, non-tahapan bukan masa liburan," tegasnya.

Bagi lembaga pengawas seperti Bawaslu, masa jeda ini justru merupakan momentum krusial. Priyo menjelaskan bahwa masa non-tahapan adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi jalannya pemilu sebelumnya. Waktu yang relatif lengang ini harus dimanfaatkan secara maksimal untuk memperbaiki Standar Operasional Prosedur (SOP), meningkatkan kapasitas SDM jajaran, serta membangun kembali kepercayaan publik.

"Kalau Ramadhan mengajarkan kita memperbaiki diri, maka non-tahapan mengajarkan lembaga memperbaiki sistem demokrasi kita, khususnya pengawasan pemilu," tambahnya.

Konsistensi Menjaga Marwah Demokrasi

Dalam pemaparannya, Priyo juga menjabarkan nilai-nilai puasa lain yang relevan dengan kerja pengawasan, seperti melatih kesabaran dan kendali diri. Di ruang lingkup kepemiluan, kesabaran ini diterjemahkan sebagai sikap profesional—tidak mudah reaktif terhadap isu politik liar dan teguh berpegang pada prosedur aturan yang berlaku.

Ia mengingatkan jajarannya bahwa amanah sebagai penyelenggara adalah tanggung jawab moral yang besar, bukan sekadar selembar Surat Keputusan (SK) yang aktif saat tahapan saja. Oleh karena itu, diperlukan sikap istiqamah atau konsistensi.

"Tidak boleh cuma aktif saat tahapan lalu redup di masa non-tahapan. Karena demokrasi itu proses panjang dan penjaganya harus tahan lama, bukan hanya musiman," pungkas Priyo.

Melalui pesan Ramadhan ini, Bawaslu Pati berharap seluruh jajaran penyelenggara dapat menjadikan ibadah puasa sebagai energi moral untuk menjaga integritas, netralitas, dan marwah demokrasi di Indonesia secara berkelanjutan.

Tag
Ngabuburit Pengawasan